Tuesday, July 24, 2012

Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi pada Pasien di Puskesmas


BAB I
1.1 Latar belakang
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Tetapi pada populasi lansia hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan diastolnya 90 mmHg. Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi primer (esensial) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, terdapat pada lebih dari 90% penderita hipertensi, dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi. (Brunner & Suddarth, Medical Surgical Nursing tahun 2002).
Penderita hipertensi tentu saja memerlukan penanganan khusus seperti menjaga pola makan atau gaya hidup dan mendapat terapi obat. Dalam kenyataannya, sering dijumpai penderita dengan perilaku kepatuhan meminum obat yang buruk. Hal-hal tersebut dapat disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah dukungan keluarga. Keluarga menjadi komponen yang sangat penting dalam perilaku kepatuhan meminum obat. Hal yang sering menghambat kepatuhan pasien hipertensi dalam minum obat, yakni tidak merasakan gejala atau keluhan, dosis tidak praktis (beberapa kali minum obat dalam sehari), efek samping obat (misalnya batuk yang sangat mengganggu), harga obat terlalu mahal, dan obat sulit diperoleh (tidak tersedia di semua apotek). Peran keluarga disini sangat penting, bila individu merasa mendapat dukungan yang kuat, maka ia akan mencoba sekuat tenaga untuk patuh minum obat. Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan skor kesehatan individu serta dapat juga menentukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima.


Berdasarkan data WHO dari 50% penderita hipertensi yang diketahui hanya 25% yang medapat pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik (adequately treated cases). Padahal hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, saraf, kerusakan hati dan ginjal sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di negara maju seperti Amerika, penderita yang diobati sebanyak 59% dan yang terkontrol 34%. Di Indonesia, berdasarkan penelitian Prof. Dr. dr. H. Mochammad Sya’bani, M.Med.Sc, SpPD-KGH(2008), penderita hipertensi yang periksa ke Puskesmas dilaporkan teratur sebanyak 22,8%, sedangkan tidak teratur sebanyak 77,2%. Dari data NHANES pada orang dewasa hipertensi di Amerika tahun 1999-2000 mengungkapkan, 70% sadar bahwa mereka menderita hipertensi. Kesadaran tersebut membawa 59% dari mereka untuk melakukan terapi. Tetapi hanya 34% dari mereka yang melakukan terapi memiliki tekanan darah yang terkontrol.
Patuh minum obat kendali utama hipertensi. Pada penderita hipertensi, kepatuhan minum obat adalah kendali utama agar terhindar dari risiko mematikan. Namun, banyak yang merasa tak perlu minum obat ketika sudah merasa "normal", padahal itu salah.
Tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap pengobatan hipertensi akan meningkatkan efektivitas pengobatan serta mencegah episode yang lebih buruk dari penyakit ini. Kepatuhan minum obat dalam jangka panjang bahkan akan menurunkan morbiditas dan mortalitas penderitanya. Kepatuhan minum obat antihipertensi merupakan faktor krusial untuk mencegah kerusakan organ penting tubuh, seperti ginjal, otak, dan jantung. Perlindungan terhadap organ-organ penting ini dapat menurunkan risiko terjadinya gagal ginjal, stroke, dan miokard infark, yang pada akhirnya dapat mencegah terjadinya kematian. Kepatuhan minum obat pada pengobatan hipertensi sangat penting karena dengan minum obat antihipertensi secara teratur dapat mengontrol tekanan darah penderita hipertensi.
Di Puskesmas, terutama di Poli Penyakit Dalam sebagian besar pasien yang datang terindikasi tekanan darah tinggi. Banyaknya angka hipertensi menjadi satu catatan tentang tingginya konsumsi garam oleh masyarakat di sekitar wilayah masyarakat. Namun setelah melakukan pemeriksaan ke Puskesmas, tidak sedikit pasien yang tidak kembali. Kemungkinan-kemungkinan bahwa tingkat kepatuhan minum obat pasien hipertensi juga rendah. Hal ini yang menjadi tolak ukur dan inspirasi ataupun juga alasan masalah ini diangkat. Perlu dilakukan konseling lebih lanjut kepada pasien dan juga keluarga agar tercapainya kepatuhan pasien untuk minum obat. Dukungan keluarga amat penting dalam pelaksanaan terapi obat kepada pasien. Sehingga konseling lebih ditujukan kepada keluarga sehingga tujuan dapat terwujud sesuai keinginan.

No comments:

Post a Comment