Saturday, September 15, 2012

Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre-Operasi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kecemasan adalah suatu respon dari pengalaman yang dirasa tidak menyenangkan dan diikuti perasaan gelisah, khawatir, dan takut. Kecemasan merupakan aspek subjektif dari emosi seseorang karena melibatkan faktor perasaan yang tidak menyenangkan yang sifatnya subyektif dan timbul karena menghadapi tegangan, ancaman kegagalan, perasaan tidak aman dan konflik dan biasanya individu tidak menyadari dengan jelas apa yang menyebabkan ia mengalami kecemasan. (Lazarus, 1969)

Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan. Kecemasan biasanya berhubungan dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Pasien yang mengalami kecemasan menunjukkan gejala mudah tersinggung, susah tidur, gelisah, lesu, mudah menangis dan tidur tidak nyenyak. Kecemasan pasien pre operatif disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah faktor pengetahuan dan sikap perawat dalam mengaplikasikan pencegahan kecemasan  pada pasien pre operatif. Keluarga yang memberi motivasi dan perhatian besar kepada pasien pre-operasi akan mempengaruhi tingkat kecemasan pasien.
Ni Ketut Kusumarjathi (2009) yang melakukan penelitian saat praktek Laboratorium Rumah Sakit pada bulan Februari 2011 di RSU Provinsi NTB, bahwa peneliti mendapatkan pasien yang akan dioperasi tanpa ditemani oleh keluarganya, mengalami kecemasan yang menimbulkan perubahan fisiologis seperti jantung berdebar-debar, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, perasaan adanya tekanan pada dada yang dapat berisiko ketika menjalani pembedahaan sehingga jadwal operasi diundur beberapa hari.
Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada 10 pasien yang akan menjalani operasi dengan cara memberi kuisioner untuk mengetahui tingkat dukungan keluarga dan lembar observasi HRS-A untuk mengukur tingkat kecemasan, didapatkan 30% mengalami kecemasan ringan, 60% mengalami kecemasan sedang, dan 10% mengalami kecemasan berat dengan dukungan keluarga rata-rata dalam kategori baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Ruspita Jenita Nadeak (2010) dengan judul ”Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi di Ruang RB2 RSUP HAM Sumatera Utara” memperoleh hasil bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi dengan dukungan keluarga terbesar adalah kategori baik 53,2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17,7%. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah kecemasan ringan 46,8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24,2%. (www.mediainfo.co.id, 2011)
Kemungkina besar ketiadaan dukungan keluarga akan meningkatkan tingkat kecemasan pasien pre-operasi dikarenakan tidak ada dorongan eksternal yang menguatkan dan meyakinkan psikisnya bahwa operasi yang akan dihadapi akan berjalan lancar, sehingga mempengaruhi kepercayaan diri dan mengurangi dorongan internal.
Pasien sebelum dioperasi akan dilakukan observasi TTV di Ruang Rawat Inap terlebih dahulu kemudian diperkenankan memakai pakaian khusus untuk operasi seperti penutup kepala, baju dan celana khusus. Lalu dikirim ke Ruang Operasi. Di saat-saat seperti inilah tampak gurat cemas di wajah mereka. Di satu sisi ada dukungan keluarga yang dapat menumbuhkan kepercayaan akan apa yang akan terjadi setelah operasi dan di sisi lain ada pasien tanpa diberikan dukungan oleh keluarganya. Dan imbasnya bisa dilihat setelah pasien memasuki Ruang Operasi.
Dengan memperhatikan hal tersebut, dibutuhkan konseling terlebih dahulu kepada keluarga agar mampu mendukung pasien dalam menghadapi pergolakan batin seperti itu. Setelah keluarga mengerti dan memahami tugasnya, kemudian pasien juga diberikan wacana dan motivasi tentang operasi agar dapat menghadapi kecemasannya dengan efektif dan meminimalkan tingkat kecemasannya.

No comments:

Post a Comment